ads

Alasan Hadir di Dunia ini

Tags:

Oleh: Wahyu Setyawan

Ada sebuah kutipan bijak nan menarik untuk kita renungkan,
“Satu-satunya alasan kita hadir di dunia ini adalah menjadi saksi atas kekuasaan Allah.” –Sang Autodidak-
Kata-kata bijak nan indah dan penuh makna ini, kata yang keluar dari salah satu tokoh pelaku sejarah yang dijuluki “Sang Autodidak” produsen seratus buku, yaitu Buya Hamka. Sejenak ketika merunungi kata bijak beliau, dalam benak saya, inilah alasan kita lahir di dunia ini. Menjadi saksi atas kekuasaan Allah.
Dengan jelas dan detailnya, Allah memaparkan begitu indah nan elok (mempesona) karya-Nya, langit dan bumi, maupun pergantian siang dan malam mudah bagi-Nya untuk mengatur itu semua. Agar kita sebagai makhluk ciptaan-Nya mau berfikir menggunakan akal melihat kebesaran-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesarn Allah) bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi,...” (Qs. Ali-Imran: 190-191)
Duhai insan yang mulia, sejenak kita renungkan arti kehidupan ini, arti kita hadir di dunia. Apakah hanya sekedar dilahirkan tanpa tujuan? atau  tanpa makna pula? Semoga bukan. Kita punya misi, punya cita-cita, ambisi, dan tujuan di dunia untuk akhirat yang kekal, yaitu meraih ridho Allah dalam ibadah dan menyaksikan atas kebesaran-Nya.
Namun inilah  yang bertolak belakang saat ini. Seolah-olah kita lahir di dunia ini tanpa ada alasan. Lalu, jika Allah menanyakan kepada kita, alasan apalagi jika kita dimintai pertanggung jawaban kelak atas apa yang kita lakukan di dunia ini?
Duhai insan yang mulia, Allah pun sudah mengutus rasul-Nya untuk menyampaikan kabar peringatan dan gembira, bahkan di era digital sudah banyak media yang gencar-gencarnya mengingatkan kita dalam menyeru untuk kebaikan. Jangankan media. Kalau kita mau berfikir, Lingkunganpun sudah Allah tata kelola dengan sedemikian indah nan elok-nya. Gunung yang tinggi indah menjulang bagaikan pasak bumi, namun masih kalah tinggi dan luasnya dengan langit, lautan yang luas pun masih kalah luasnnya dengan bumi. Lalu siapa yang bisa mendesain itu semua, jika bukan atas kekuasaan dan kebesaran-Nya. Memikirkan dengan akal kita, merenungi atas segala penciptaan-Nyalah tugas kita sebagai hamba-Nya yang berakal. Ya Allah, semoga kami menjadi hamba yang bersyukur.
Maka, masihkah perlu mencari-cari alasan untuk mengelak atas kekuasaan Allah di dunia? ketika kelak Allah berikan seluruh catatan kita di dunia dan kita dimintai pertanggung jawabannya. Maka,  luruskan niat, raih keridhaan Allah, menjadi saksi atas kekuasaan-Nya. Wallahul muwaffiq

Referensi:
Al-Qur’an
Djaelani, Anwar. 2015. 50 Pendakwah Pengubah Sejarah. Yogyakarta: Pro-u Media

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu Image and video hosting by TinyPic