oleh: (Abdul Rais Kaharuddin)
Dalam dunia postmo saat ini, kita mengenal satu istilah baru yang disebut FOMO (fear of missing out). Yang artinya ketakutan atau kecemasan akan ketinggalan informasi sedikitpun. Siapapun menurut saya akan merasa sangat bodoh jika dirinya tak tahu apa-apa.
Unsur terpenting dalam fenomena FOMO ini adalah rasa “takut”. Rasa takut nilah yang kadang membuat manusia melakukan sesuatu yang diluar batas rasional manusia pada umumnya. Dan ketakutan manusia hari ini adalah keterlambatan mendapatkan informasi. Informasi apa saja, pengetahuan terbaru, buku terbaru, berita terkini, tempat nongkrong (nongki-nongki chunchy) dan tempat hiburan paling baru. Yang paling penting adalah menunjukkan ke orang banyak bahwa dia tahu. Upload foto ke media sosial misalnya.
Tapi saya tidak akan bahas banyak soal FOMO secara umum. Dalam tulisan ini, saya akan coba membahas akibat fenomena FOMO dalam dunia aktivis kampus, yang tentu memiliki beragam dan banyak ideologi bagi tiap organisasi atau pergerakan.
Tradisi diskusi setiap pergerakan mahasiswa adalah hal yang sangat positif bagi anggotanya, artinya disana ada proses pendewasaan dalam berfikir kritis. Ini menjadi penting karena disinilah proses penanaman ideologi gerakan tersebut dilakukan. Dan gerakan mahasiswa manapun pasti melakukan hal ini, walaupun dengan cara teknis yang berbeda-beda.
Tapi saya melihat sesuatu yang beda dari cara berfikir sebagian orang yang mengaku sebagai aktivis kampus tersebut. Saya sama sekali belum paham alasan mengapa sebagian mereka seperti itu, entah karena mencari eksistensi atau agar kontroversi saja. Anggapannya mahasiswa akan dianggap kritis kalau berfikir aneh-aneh dan nyeleneh. Hadeh.
Dalam tradisi diskusi, seorang aktivis tentu dituntut untuk mengetahui lebih dulu bahan yang akan di diskusikan. Disinilah muncul ketakutan atau kecemasan yang disebut FOMO tadi. Takut jika tidak mengerti alur diskusi, cemas jika tak tahu apa-apa. Biasanya karena alasan inilah seseorang akan memaksakan dirinya untuk belajar dengan cepat dan praktis untuk memahami materi diskusi, baik dari buku dan yang paling banyak dari hasil searching. Berterima kasihlah pada Google.
Bagaimanapun, sesuatu yang dipaksa untuk cepat matang tidak akan menjadi enak untuk di konsumsi. Labil dalam berfikir adalah konsekuensi logis jika belajar praktis seperti itu. Akhirnya seseorang akan menginterpretasikan hasil pengetahuannya yang setengah-setengah tadi menjadi buah pikiran yang kadang-kadang kita sebut liberal. Dan paling anehnya, beberapa aktivis akan bangga akan ke-liberal-annya itu.
Secara tidak sadar, orang-orang seperti diatas telah berfikir liberal tanpa harus belajar bagaimana cara untuk menjadi liberal. Biasanya orang seperti ini akan menjadi orang yang sangat sok idealis. Dan untuk menunjukkan bahwa pengetahuannya telah sedemikian rupa, seseorang akan menuangkannya dalam tulisan panjang atau paling sering adalah tulisan pendek melalui statusnya. Kita bisa melihat ini dari status-status seseorang di akun sosial medianya, baik Facebook, Twitter, Line, Instagram atau yang lainnya. Status-status tersebut adalah representasi dari sejauh mana orang itu berfikir dan sedangkal apa dia dalam berpendapat.
Tujuannya sederhana, agar buah pikirannya di hargai oleh orang lain. Yang akan berujung pada penghargaan terhadap dirinya. Mungkin inilah yang di maksud oleh Abraham Maslow dalam teorinya, Hierarchy of Needs. Yang di dalamnya ada lima tingkatan kebutuhan manusia, dan kebutuhan akan penghargaan diri ada pada tingkatan ke empat. Artinya, menurut Maslow penghargaan dari orang lain terhadap diri sendiri adalah kebutuhan dasar bagi setiap manusia. Entah akan di tempuh dengan cara apapun, setiap manusia tentu punya caranya masing-masing.
Jadi, apakah kesimpulannya seorang aktivis yang berfikir nyeleneh adalah orang yang hanya menginginkan penghargaan diri? hehe tentu tidak sesederhana itu. Intinya, jika tidak ingin dianggap berfikir nyeleh, mulailah dari sekarang untuk tidak belajar sesuatu secara praktis dan tidak memaksakan diri untuk berfikir kritis. Takut kepada kebodohan adalah hal yang sangat baik. Dimana keinginan berproses untuk menjadi tahu muncul darisana. Belajar itu butuh proses kawan.
Bacalah buku yang banyak. Bacalah atas nama Tuhanmu.
#LelakiMasaKini