ads

Offers for more religious in addressing cases immoral

Tags:


Oleh : Sekar Prembayun


            Jika Indonesiamu saat ini memprihatinkan soal moral seharusnya kita prihatin pada generasi muda saat ini, “Hendak dibawa kemana lagi negara kita jika seperti ini?” gempor-gempor pemberitaan media di Indonesia saat ini seolah-olah tak ubah membritakan tindakan asusila yang membuat hati serasa menangis menyaksikan kemirisan moral anak-anak pribumi. Seolah-olah prilaku hewan dan manusia tidak ada pembeda. Tak ada yang bisa di jadikan berbeda. Bahkan terkadang, melihat pemberitaan yang ada, perilaku hewan patut dikatakan lebih manusiawi daripada perilaku manusia yang seperti hewani.
            Akal. Kata ini merupakan pembeda antara manusia dengan hewan. Dimana Allah menciptakan manusia adalah sebaik-baiknya makhluk. Ia lebih istimewa dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya karena ia punya akal. Namun tak ubah pula, hati seolah menangis. Tindakan asusila kian membuat hati meringis pilu. Hilang akal pelaku tindak asusila. “Orang yang melakukan kejahatan, saat itulah imannya hilang.” Kata Pak Adnan, Asisten Dosen UMY mata kuliah Aqidah dan Akhlak.
            Kejahatan tindak asusila mungkin tidak terlalu menjadi rating pertama dalam tindak kejahatan yang lainnya, namun tindak kejahatan ini menumbuhkan rasa khawatir yang mendalam bagi masyarakat luas. Terkhusus orang tua yang memiliki anak, baik itu kecil, remaja bahkan dewasa. Karena sekarang ini, bukan ukuran usia yang memikat untuk dijadikan sasaran kebusukan nafsu para pelaku.
            Menurut Mr. J.M Van Bemmelen dalam Pengertian Tindak Pidana Asusila, menyatakan “Pelanggaran kehormatan kesusilaan di muka umum adalah terjemahan dari “outrange public a la pudeir” dalam Pasal 330 Code Penal. Di tafsirkan sebagai “Tidak ada kesopanan di bidang seksual.
            Sopan. Kata ini yang memang seharusnya tertanamkan di dalam diri manusia. Adanya sikap sopan, karena ia pagar dalam sebuah tindakan. Menentukan menjadi liar atau bertindak sopan. Disinilah muncul berbagai penawaran yang bisa meminimalisir tindak asusila. Sebelumnya, tindak asusila menjadi marak terjadi akhir-akhir ini banyak sekali sebab yang melatar belakanginya salah satunya karena terlalu seringnya menjadikan tubuh wanita menjadi suatu objek. “Berhenti menjadikan tubuh wanita sebagai objek.” Situs-situs tak senonoh terjamah bebas bahkan ia tersodor tanpa pengguna gadget menginginkannya, terjual dengan bebas minuman keras yang menjadi faktor utama terjadinya tindak asusila dan masih banyak lagi.
            Namun, ada penawaran yang lebih agamis dalam menyikapi tindakan asusila saat ini. Bahkan penawaran ini sudah lama sekali diberikan, hanya saja masyarakat seolah menutup mata dan memilih bebas berperilaku ketimbang adanya aturan yang membatasi. Alhasil, siapa yang bersalah jika ada kejahatan seksual saat ini?
Islam memberikan penawaran keselamatan, tidak ada salahnya jika kita sedikit agamis bahkan lebih dalam penerapan keseharian kita. Pertama, no ikhtilath yaitu tidak adanya aktifitas yang mencampurkan antara kaum perempuan dan kaum laki-laki. Membatasi setiap pertemuan antara perempuan dan laki-laki. Jika aktifitas bersama saja sedikit akan meminimalisir terjadinya hal yang tidak di inginkan. Kedua, berhenti mempublish tubuh wanita sebagai objek iklan. Ketiga, hapuskan tradisi pacaran. Melihat beberapa kasus yang terjadi kebanyakan dari semuanya dikarenakan bermula dari pacaran. Eno dengan cangkulnya yang terlibat cekcok dengan sang pacar, penyebabnya adalah bermula dari pacaran. Keempat, penanaman moral yang lebih ditingkatkan. Barangkali kita lalai menanamkan etika moral di dalam diri masing-masing kita sehingga memandang remeh hal yang seharusnya mendapatkan keprihatinan. Kelima, lebih agamis dalam keseharian. Semua agama pasti mengharamkan tindakan kejahatan asusila dan mengajarkan untuk lebih bertindak menjaga karena setiap agama tak mau masanya menjadi penyembah nafsu nurjana. Libatkan aturan Allah dalam setiap tindakan dan satukan agama dengan semua urusan.

Berangkat dari premis penawaran lebih agamis dalam menyikapi tindak asusila, maka mencegah lebih baik dari mengobati. Jika sudah terlanjur terjangkit meminimalisir akan lebih baik. jika bukan kita yang memulai sebuah perubahan besar lantas siapa lagi? Penawaran hidup yang lebih agamis membuat kita terhenti dalam ranah asusila karena kita tahu keduanya tak bisa berdekatan. 


Daftar Pustaka:
http://www.suduthukum.com/2015/09/pengertian-tindak-pidana-asusila.html diakses pada tanggal 31 Mei 2016 pukul 08:00 WIB

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu Image and video hosting by TinyPic