ads

Fenomena Dot Com dan Kontraksi Sosial

Tags:


(Abdul Rais Kaharuddin)
Wajah Jurnalistik online saat ini harus di akui sungguh mengerikan sekaligus menyebalkan. Judul beritanya yang sering terkesan dramatis dan sensasional kadang membuat para netizen menjadi muak. Namun tidak sedikit juga yang menaruh simpati yang besar terhadapnya. Bahkan dalam beberapa kasus ini menjadi viral sampai social movement.
Jika berkaca pada kaidah jurnalistik masa lampau sampai hari ini, sebenarnya jurnalistik online telah banyak melabrak kaidah jurnalistik seperti yang seharusnya. Dalam dunia jurnalistik ini di sebut Jurnalisme Umpan Klik (Clickbait Journalism), yang pada intinya editor atau wartawan membuat judul berita yang sensasional dan semenarik mungkin agar pembaca tertarik untuk membuka link berita tersebut. Saya rasa siapapun yang membaca tulisan ini pernah mengalami hal yang serupa, bahkan kadang judul berita tidak sesuai dengan berita yang di sajikan, hanya demi mendapatkan klik dan visitor atau trafik. Kita tahu bahwa karya jurnalistik itu menyampaikan informasi (to inform) sedangkan Umpan Klik itu bertujuan untuk mendapatkan klik atau trafik.
Fenomena media sosial (social media) saat ini hampir berhasil menggantikan posisi media massa dan atau situs-situs berita sebagai andalan untuk mendapatkan berita sebagai sumber informasi utama.
Menurut hasil Edelman Trust Barometer 2016 di Indonesia, media sosial dan mesin pencari (Google, Bing/Yahoo) kini menjadi sumber informasi yang paling banyak digunakan dalam mencari berita, jauh meninggalkan TV, koran, blog dan majalah.
Hal ini menurut saya karena media sosial menghadirkan forum yang interaktif berupa kolom komentar dan tombol berbagi ke berbagai media sosial lainnya. Disini para netizen dapat dengan sesuka hati memberi komentar berupa pujian, kecaman bahkan juga kritik. Silahkan cek komentar facebooker, misalnya, di sebuah link berita yang di share seseorang atau fanspage, berita kontroversi pasti menuai banyak pro dan kontra dengan berbagai alasan yang berbeda-beda. Lebih menyedihkan lagi jika menemukan link berita yang jelas-jelas hoax, masih saja ada yang mau berkomentar dan berdebat kusir disana (manusia seperti ini hidupnya selo banget).
Namun ada sesuatu yang saya kira sangat baru di tengah masyarakat Indonesia, tentu saja ini soal kombinasi peran media dan kepentingan politik penguasa. Adalah terma “Test The Water” yang mulai populer di Indonesia semenjak kampanye pilpres 2014. Saat itu tim kampanye Jokowi-JK banyak memunculkan wacana sensitif dan kontroversial yang membuat masyarakat resah. Kemudian wacana yang di tolak oleh masyarakat akan di sanggah kembali oleh mereka sendiri.
Secara umum jelas pola yang di gunakan oleh rezim ini tak lepas dari media online. Mulai dari melempar isu ke masyarakat, kemudian masyarakat merespon, jika mendapat respon positif then show must go on, jika ditanggapi negatif maka mereka akan menyanggah dengan berbagai alasan.
Ada berita, ada efek berita. Efek berita ini dapat di tafsirkan sebagai respon masyarakat inilah yang menjadi kontraksi sosial dari ‘lemparan’ isu oleh pemerintah. Lagi-lagi hal ini terjadi dan berawal dari media online. Kontraksi sosial ini dapat hanya berupa komentar dan berkembang sebatas di dunia maya sampai menjadi movement di dunia nyata.
Contoh yang masih hangat adalah kasus bu’ Saeni di Banten, separuh dagangan warungnya di sita oleh Satpol PP pada tanggal 8 Juni lalu, kemudian menjadi berita viral dimana-mana, karena di berbagai media begitu dramatis dalam menyajikannya. Saya melihat rata-rata berita yang di sajikan menggunakan framing Humanisme. Bahkan kompas.com mulai tanggal 11-15 Juni memberitakan tentang kasus bu’ Saeni hampir 350an berita. Kemudian muncul lah berbagai reaksi dari masyarakat, gerakan untuk membantu bu’ Saeni akhirnya datang dari netizen, artis bahkan dari presiden Jokowi pun turut menyumbang. Akhirnya penggalangan dana yang di motori oleh Dwika Putra ini mendapat hasil fantastis dengan jumlah Rp 265 Juta.
Kemudian pemerintah memanfaatkan hal ini dengan melempar isu soal penghapusan 3.143 perda yang katanya bermasalah. Diantaranya sekitar 1.800an merupakan perda bernuansa syariah Islam, ini setengahnya. Kemudian pemerintah mendapat respon negatif dari publik dan mendagri mengelak bahwa tidak ada perda syariat Islam yang di hapuskan. Memang tidak ada perda yang bernama syariat Islam, yang ada adalah perda bernuansa syariat Islam, ini hanya permainan kata. Kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya.
Reaksi sosial dalam dunia dot com memang bukan hal baru lagi, bahkan sampai berujung pada movement atau gerakan donasi sosial. Pada tahun 2009 masyarakat bersimpati pada Prita Mulyasari yang di kenakan denda oleh RS Ommi Internasional atas tuduhan pencemaran nama baik, untuk pertama kali gerakan seperti ini muncul melalui sosial media dengan tema Koin Untuk Prita, donasi yang terkumpul sebesar Rp 825 juta, empat kali lipat dari yang di butuhkan, yaitu Rp 204 juta. Kemudian pada tahun 2010 muncul lagi gerakan serupa yang kita kenal dengan Koin Untuk Bilqis, yaitu gerakan untuk membantu operasi bayi yang terkena penyakit atresia biller – sebuah kondisi dimana saluran empedunya gagal berfungsi, gerakan ini berhasil mengumpulkan lebih dari yang di butuhkan (Rp 1 miliar) yaitu sekitar Rp 1,3 Miliar. Lalu setelahnya gerakan seperti ini muncul dengan berbagai tema seperti Koin Untuk KPK untuk pembangunan gedung baru, Koin Untuk Australia yang di motori oleh teman-teman KAMMI Aceh dan yang baru-baru ini adalah sumbangan untuk bu’ Saeni di Banten.
Inilah berbagai fenomena di era dot com yang saya kira menarik. Mulai dari Test The Water sampai social movement untuk menggalang donasi. Semua hal tadi di lakukan tidak lain melalui media sosial dan atas pemberitaan media yang bombastis, fantastis dan dramatis. Share link, retweet, comment dan like adalah bentuk lain dari reaksi masyarakat terhadap suatu fenomena atau isu baru.
Melihat hal ini, saya kira kita semua perlu untuk mengontrol diri agar lebih selektif dalam melihat berita. Membaca kemudian menanggapi suatu isu secara serampangan menurut saya bukan cara akademisi yang baik. Berekspresi terhadap ancaman kebijakan pemerintah bagi umat Islam memang sangat diperlukan. Agar umat Islam tidak melulu di pojokkan oleh rezim dan media yang kontra Islam. Itulah kenapa melek media sangat di perlukan. Agar tidak ada lagi dari kita yang melihat sesuatu dengan kacamata kuda.
Sekian dan Selamat menunaikan ibadah puasa.

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu Image and video hosting by TinyPic