ads

W I G A N I A S T A W A

Tags:


Senja, datanglah kepadaku yang sedang mengigau kata dusta
Meremas janjiku pada Sang pemilik persada menjadi remahan yang berserak seolah membentuk beriak yang meninggalkankan buih. Kemudian hilang tak berbekas.
-
-
-

Umurku sudah lebih dari dua windu. Mahija Kalingga datang menemuiku dan mulai menagih janjinya padaku. Dia mendatangiku tiba-tiba kemudian mengajakku berbicara. Aku tak paham apa maksudnya. Yang aku tangkap dari perkataannya adalah,  

“Beda lamun
Wus sengsem rehing asamun
Semune ngaksama 
Sesamane bangsa sisip
Sarwa sareh saking mardi martotama”
 Sakmenika Nusa nembe andon, badhe badal

Mahija Kalingga menunggu tanggapanku selama beberapa menit. Aku berkata padanya bahwa aku tak mengerti maksud perkataannya berulang kali. Mahija Kalingga hanya tersenyum mempelihatkan cekung dipipinya kemudian pamit sambil mengamit tongkat kayu penuntunnya. Aku bersikeras untuk menyusulnya. Tapi nihil dibuatnya.

~~

Sudah menjadi tradisi, setelah dua windu terhitung dari hari kelahiran, akan datang seseorang bernama Mahija Kalingga. Aku tidak terkaget, karena semua orang mengalaminya. Bukan hanya aku seorang. Tapi tak banyak yang membahas masalah ini, seolah seperti angin lalu saja.  Yang aku tidak pahami dari perkataanya adalah   “Sakmenika Nusa nembe andon, badhe badal “ mungkin maksudnya “dia-Nusa- menua”.  Kemudian apa urusannya denganku? Aku juga tidak mengenalinya sebangai kerabatku.

Tak banyak yang mengenali sosok Nusa. Aku bahkan tak mengenali siapa dia. seorang pria atau wanita. Namanya melegenda. Tapi tak ada satupun yang tau darimana dia berasal dan bagaimana berita tentangnya  sampai pada khalayak.

Legenda mengatakan, nama Mahija Kalingga berasal dari bahasa sansekerta. “Mahija” yang berarti  Putra Bumi  dan “Kalingga “ berarti burung. Yang aku dengar dari kakek ketika bercerita adalah, Mahija Kalingga adalah seorang utusan Nusa. Mahija datang untuk mencari anak-anak  bantala pertiwi yang telah berjanji setia pada nusa untuk mengabdi juga berderma yang bertujuan mewujudkan kehidupan sentosa untuk menata kembali Sasana Dirgantara Hindia yang hampir tak utuh.

Pada akhirnya, kakek menyuruhku untuk bertemu nusa. Aku bertanya pada kakek, “seperti apa sosok nusa? Apa kakek pernah menemuinya?” tanyaku penasaran. Kakek terkikik kecil. Tentu, seorang berumur seperti kakek pernah bertemu Nusa. Berilah nusa senyuman dan salam terhangat yang kau punya. Layaknya kalian adalah sahabat yang lama sudah tak jumpa, meski kalian terpaut usia yang sangat jauh.

“Apa kau menerima perkataan yang sangat asing, ketika Mahija Kalingga menemuimu? Bahasa itu adalah bahasa kuno. Semua orang mendapatkan kalimat yang sama. Arti perkataan Mahija Kalingga adalah , Berbeda dengan yang telah berpengalaman dalam hal proses. Selalu memahami dan menimbang nimbang segala hal dengan baik, selalu sabar dan menjaga agar tidak lepas dari sebuah jalan keutamaan


 Kakek kemudian memberiku secarik kertas kuning yang usang yang berisi, sebuah kebenaran yang selama ini tidak aku ketahui. Kertas itu rupanya jatuh ketika Mahija Kalingga hendak pergi dan hilang. Kemudian aku membacanya sekata-sekata.

aku terlahir dibawah rahim nusa. Berbaju reformasi kemudian dibesarkan bersama budaya yang nantinya menjadi tabiat. Kemudian berpadu agama yang dapat menyelaraskan hidupku menjadi insan yang berkemajuan dalam segala hal. 

Secara tidak sadar, aku sudah bermitra dengan Nusa semenjak aku lahir. Dia mengirim sosok Mahija Kalingga sebagai penyampai salam mitranya padaku dan pada anak-anak yang lain.  Salam yang berarti suatu pengingat.
~~~
Pengingat . hal yang sepele memang. Tetapi dibalik “mengingat” adalah kita dipaksa untuk berpikir ke belakang. Mengulang banyak hal yang pernah menjadi bagian hidup kita selama ini. menjadi sebuah muhassabah pengingat diri. Ketika kemudian hati dihiasi kejumudan kemudian takluk kepada nafsu. Untuk itu Allah memperingati setiap hambaNya untuk ‘dzikr’. Ketika kita sudah mengingati suatu hal, secara otomatis kita kemudian menemukan mahligai syukur yang letaknya berada dalam dasar pikiran dan perasaan. 
 Bersyukur karena kita ditempatkan dalam keadaan sedemikian rupa. Bersyukur ketika kita masih dibangunkan dalam tidur-tidur malam kita, dan tentunya bersyukur masih memegang erat panji islam dalam menuntun dan memaknai kehidupan kita. Allah berfirman pada surah Luqman ayat 12, “Dan sessungguhnya telah kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu : bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.”


Maka, sebagai pemuda yang telah terduduk lama dalam sebuah tanah nusantara, hendaklah kita mengingati apa saja yang Allah berikan lewat perantara sebuah Negara. Ketika kita sudah diberikan tempat, diijinkan untuk menginjak luas tanahnya, dan berburu ilmu didalamnya, maka sesungguhnya Nusantara sudah menjadi suatu media pengingat kita dalam mengingati peran apa yang seharusnya ada dalam diri kita yang sudah bergelar pemuda.
Nusantara menjadi lapuk ketika tidak banyak manusia-manusia cendekia yang memberi pembaruan bagi  Nusantara yang telah didominasi dengan  polusi keangkuhan berkedok pemerintah yang merakyat. Makin runyam saja. 

Nusantara bumi dwipa Indonesia telah memanggil diri-diri ini lewat fenomena-fenomena yang tersiar pada warta-warta berita. Mencari sosok-sosok yang membuat bumi dwipa Nusantara menjadi sebuah Negara tua tapi berdedikasi. Mencari sosok pemuda yang tidak lupa dengan jasa-jasa para pembebas tanah ini. Tidak mengecewakan para pembebas bumi dwipa yang tekadnya hanya satu, tanah ini untuk anak dan cucu-cucu yang berpikiran revolusioner mantap menatap kedepan. Tanah ini memanggil nurani yang seberani Soe Hok Gie dan Barisan Pemuda Trisakti yang lantang menyuarakan suaranya di garda depan demonstrasi. 

Sejatinya tanah ini telah lama merindu. 

©MutiaSalsabilaWidiyanti

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu Image and video hosting by TinyPic