Namun seringkali kita alpa, bahwa nalar kita kadang tidak sampai untuk memahami apa yang menjadi kehendakNya. Kita lebih sering menggedepankan nafsu dan perasaan sebagai tolak ukurnya.
Sehingga yang ada, ketika sedikit saja cobaan atau musibah mendera, atau mungkin mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita, lantas mengeluhnya luar biasa.
Kadang kita hanya perlu bersabar dan legowo serta terus berbaik sangka. Menyelaraskan nalar dan jiwa berpadu dengan pemahaman terhadap ayat-ayatNya maupun sunnah yang dibawa rasulNya.
Yakinlah bahwa semua yang Dia takdirkan pasti ada hikmahnya. Bukankah Tugas kita hanya mensykurinya, bersabar dan terus berbaik sangka. Karena Dengan berbaik sangka, itulah sebab lapangnya dada. Sehingga hidup akan terasa lebih bahagia, apapun kondisinya, apapun yang diberikanNya. Akan senantiasa menjadi sesuatu yang bermakna untuk diambil ibrohnya.
Ternyata konsep bahagia itu cukup sederhana. Bukan dia yang memiliki segalanya atau bermewah mewahan dengan harta, namun dia yang bisa senantiasa berbaik sangka kepada Allah aza wa jalla.
Bukankah Malam tak selamanya gelap gulita, perlahan cahaya pasti akan datang menyapa. Jadi Bersabarlah dan teruslah berbaik sangka serta berjanjilah untuk tetap waras menjadi hambaNya...
Sekedar melempar kata memang sedap rasanya ya, tapi tidakkah kita mulai mencoba ? Katanya pengen bahagia ? :)
@wijangprasongko~
